Ramli Cibro
Belum lagi selesai dilema Wisata Syari'ah yang malah jatuh ke BALI, hari ini kita dikejutkan oleh penepatan Barus yang penduduknya sebagian besar non-muslim sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Kali ini kita bertanya, bukankah sejarah Islam di Nusantara dimulai dari Aceh dengan kerajaan-kerajaan pertama Pasai, Perlak dan Lamuri ? Mengapa justru tugu Islam Nusantara di letakkan di tempat lain?
Untuk menjawab persoalan tersebut tentu kita harus kembali kepada akar masalah apa itu Islam Nusantara? Karena sejatinya perkara “Islam Nusantara” bukanlah sekedar perkara sejarah dimana pertama sekali Islam menginjakkan kakinya di Nusantara. Islam Nusantara adalah perkara Epistimologi-Teologi tentang bagaimana dan dimana konstruksi keislaman dan kebudayaan dimulai secara utuh. Siapa yang dengan gamblang menjelaskan konsep dialog keislaman dan kebudayaan dalam bingkai ketasawufan berbasis wujud? (Mulyadi, 2016:81)
Belum lagi selesai dilema Wisata Syari'ah yang malah jatuh ke BALI, hari ini kita dikejutkan oleh penepatan Barus yang penduduknya sebagian besar non-muslim sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Kali ini kita bertanya, bukankah sejarah Islam di Nusantara dimulai dari Aceh dengan kerajaan-kerajaan pertama Pasai, Perlak dan Lamuri ? Mengapa justru tugu Islam Nusantara di letakkan di tempat lain?
Untuk menjawab persoalan tersebut tentu kita harus kembali kepada akar masalah apa itu Islam Nusantara? Karena sejatinya perkara “Islam Nusantara” bukanlah sekedar perkara sejarah dimana pertama sekali Islam menginjakkan kakinya di Nusantara. Islam Nusantara adalah perkara Epistimologi-Teologi tentang bagaimana dan dimana konstruksi keislaman dan kebudayaan dimulai secara utuh. Siapa yang dengan gamblang menjelaskan konsep dialog keislaman dan kebudayaan dalam bingkai ketasawufan berbasis wujud? (Mulyadi, 2016:81)
