Salah satu yang paling menarik dari Pondok Pesantren Al-Ihsan Cibiru Hilir, Cileunyi, Bandung Barat adalah Cerobong Asap Milik Pak Haji yang cukup familiar itu. Kenapa Familiar, karena tidak ada santri yang tidak pernah kesana. Semua santri pasti kebagian piket dan salah satu tugas piket itu ialah menyetorkan sampah asrama untuk disortir oleh si bapak tukang sampah. Aku termasuk santri yang paling suka bertawaf, mengunjungi cerobong asap milik pak Haji disetiap paginya. Aku suka buang sampah asrama. (Rajin, uey) Sebenarnya bukan karena rajin, tapi buat ganti olah raga, karena aku termasuk orang yang malas berolah raga (harusnya aku gemuk,,, :( )
Cerobong Asap milik Pak Haji termasuk satu dari
Icon Al-Ihsan. Dari balik cerobong tersebut berkumpul berbagai macam warna
santri. Dari balik cerobong, di pagi hari akan nampak ratusan santriwati dan
santriwan yang baru pulang-pergi mengaji dan shalat Jama’ah. Dari balik
cerobong asap juga ada jalan menuju Gang Kegelapan.
Disebut gang kegelapan karena memang gang tersebut cukup gelap. Dan gang
tersebut menjadi tempat lalu lalang santri-santri yang ‘bermasalah.’ Apakah
karena sieun papanggih jeung Pak Haji (karena can
mayar SPP atau Jarang Ngaji) atau karena bolos ngaji sore dan ngaji
malam. Gang tersebut seolah memang disiapkan untuk memberi ruang bagi kebebasan
dan kesadaran. Bukankah mereka adalah mahasiswa? Mereka berhak memilih untuk
taat aturan atau tidak taat aturan. Dan gang tersebut disediakan sebagai
pilihan.
Bicara soal Cerobong Asap milik Pak Haji, tentu
tidak bisa lepas dari membicarakan Pak Haji-nya sendiri.
Ada dua hal yang paling saya ingat dari beliau
pertama adalah ‘Teh Ayyi,,,’(Ups, naha ujug-ujug the Ayyi?) Pertama adalah tentang pendidikan Hasan Al-Banna yang
populer dengan sebutan Takamul was Syumul,
menyempurnakan dan menyeluruh atau dina
istilah Pak Ucup, Progressive dan Comprehensive.
Bahwa Islam adalah agama yang terus menyempurnakan diri dan yang paling penting
adalah bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh. Islam mengatur semua aspek
kehidupan, mulai dari urusan basuh kencing, sampai urusan ngankat
presiden; Dari urusan main bola, sampai urusan main mata.
Kalau dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan
Ulil bahwa Islam adalah agama yang sempurna secara potensi, artinya Islam
berpotensi untuk terus bergerak maju, dinamis dan berkembang. Tidak mesti
kemajuan dan perkembangan itu maksudhnya shalat dalapan
berkembang menjadi duapuluh, dan bukan pula Al-Fatihah bisa diganti dengan
Terjemahan Indonesia. Tapi bahwa Islam sangat akomodative terhadap kebutuhan
umat (jadi inget seksi akomodasi dan konsumsi), akulturative (mampu menyesuaikan
diri dengan budaya setempat), adaptive (cocok dengan lingkungan manapun, dari
arab yang ga ada air, sampai antartika yang super dingin) dan dinamis (tidak
kaku). Islam tetap memiliki sisi yang 'baku' dan tidak dapat diganti, namun ada
juga yang 'dinamis' artinya dapat disesuaikan dengan keadaan lingkungan.
Kedua, adalah Filosofi Anti Petir; yaitu
sebuah filosofi yang berangkat dari sebuah pertanyaan,
“Manakah yang lebih dahulu disambar petir? Mesjid yang tidak
dipasangi Anti Petir atau Diskotik yang dipasangi Anti Petir?” Bagi golongan
kanan, jelas diskotiklah yang akan disambar petir karena itu tempat maksiat!
Tapi bagi Pak Haji, Mesjid lah yang pertama disambar petir karena bangunannya
TIDAK DIPASANGI ANTI PETIR!”
Dari kedua Philosofi tersebut, Pak Haji membangun
menara Cerobong Asap. Philosofi Islam Progresif dan Komprehensif beliau
terwujud dari sikapnya yang bukan hanya mengatur persoalan 'ushlalli' dan
'tidak ushalli', namun beliau juga ‘mengatur’ permasalahan sampah
(komprehensif) dengan mendirikan pusat pengelolaan sampah dengan menyediakan
tempat pembakaran (cerobong asap) bagi sampah yang tidak mungkin lagi di daur
ulang. Pengaturan tersebut terus beliau pantau dan benahi (progresif).
Adapun Philosofi Anti Petir terwujud dari kesadaran bahwa
permasalahan sampah tidak cukup hanya dengan membayar retribusi sampah yang
hasilnya tidak langsung dirasakan oleh penduduk sekitar. Dengan mendirikan
Cerobong Asap, Pak Haji memberikan solusi dan jawaban yang cerdas dan beliau
berhasil memberdayakan seorang warga Cibiru Hilir.
Philosofi Anti Petir adalah
pesan bahwa dalam menghadapi berbagai persoalan dan polemik, Umat Islam tidak
cukup hanya meningkatkan ‘ibadah ritual dan spiritual semata,’ akan
tetapi lebih dari itu, umat Islam harus terjun langsung menyingsingkan lengan,
berfikir logis dan bekerja keras untuk dapat keluar dari setiap persoalan. Umat
Islam tidak diperkenankan meloncat ke maqam khawas (orang
menyamakan teori ini dengan fatalisme, walau tidak demikian adanya) lalu
mengabaikan kausalitas (sebab akibat). Pak Haji dengan Cerobong Asap-nya
mencoba mengangkat derajat dan level berfikir ummat supaya sesegera mungkin
mereka keluar dari era kegelapan (dark age)
menuju era Islam Rasional, Islam Kritis, Islam Progresif dan Islam Menyeluruh.
Cerobong Asap adalah sebuah menara kecil yang
digunakan untuk membakar sampah, menghasilkan gas emisi dan mencemari langit.
Dimata para pemerhati lingkungan, tindakan tersebut dianggap sebagai pencemaran
lingkungan. Namun Pak Haji memiliki pemikiran berbeda. Bagi beliau, memang 'ada
harga' yang harus dibayar untuk setiap jawaban. Namun terkadang jawaban terpaut
antara dua hal yang sama-sama urgen dan bagaimana kita memilih untuk
mendahulukan yang satu dan mengorbankan yang lain. Bahwa dalam memilih dan
memutuskan suatu tindakan, disana ada apa yang beliau sebut sebagai 'Skala
Prioritas' walau istilah ini sebenarnya telah sering digunakan orang lain,
namun kami mencoba untuk memaknai ulang. Skala Prioritas berarti memilih yang
paling urgen walau berarti harus mengorbankan pilihan yang lain.
Beliau mengumpamakan Skala Prioritas ini dengan
mengajukan contoh bahwa 'memelihara ukhuwah islamiah lebih penting daripada
memelihara perbedaan-perbedaan yang bersifat furu'iah." Menjalin
persaudaraan hukumnya wajib sementara memutus persaudaraan hukumnya haram.
Kalau gara-gara persoalan Ushalli dan Tidak Ushlalli, Wiridan dan tidak wiridan,
lapan dan duapuluh seseorang memutus silaturrahmi, itu sama saja dengan
mengorbankan hal wajib hanya untuk perkara-perkara sunnat.
Hubungan antara 'Cerobong
Asap' dan 'Skala Prioritas' adalah bahwa untuk menghindari dampak lingkungan
yang lebih besar (akibat sampah yang tidak dikelola), Pak Haji membangun
cerobong dengan konsekwensi kecil, menimbulkan sedikit percikan polusi udara.
(Belum apa-apa jika dibandingkan dengan asap dari perusahan-perusahaan
kapitalis asing dan lokal yang asapnya menghitam legam, menggelapkan langit
Indonesia). Beliau sering memantau sebisa mungkin supaya sampah yang dbakar
dapat diminimalkan. Beliau sering memberi rekomendasi-rekomendasi kepada tukang
sampah mengenai jenis sampah tertentu, kemana ia layak didistribusikan. Bahkan
'resiko yang minim' untuk menanggulangi 'dampak yang besar' beliau usahakan
untuk menjadi semakin minim.
No comments:
Post a Comment