Friday, 26 February 2016

Islam Nusantara; Reproduksi Islam Alternatif



Ramli Cibro
Kejatuhan Rezim Soeharto dipercayai telah membangkitkan kembali gerakan-gerakan Islam revivalis yang selama ini terbungkam. Kebangkitan ini berangkat dari kepercayaan bahwa tidak ada sistem yang mampu menjawab persoalan manusia kecuali yang dipercaya sebagai sistem ‘Islam.’ Selain itu, tuntutan penerapan islamisasi di berbagai sektor juga berangkat dari kepercayaan umat Islam bahwa penerapan sistem yang islami adalah sebuah kewajiban. Walhasil, tuntutan itupun kemudian terkendala oleh kenyataan bahwa negara kita telah terlebih dahulu menerapkan konsep yang berbeda.

Dilihat dari cakupan wilayah dakwahnya setidaknya ada tiga model revivalisme Islam yang hari ini berkembang di Indonesia. Pertama, Revivalisme Islam Wilayah yaitu sebuah tuntutan otonomi khusus di bidang agama dimana sebuah daerah diizinkan untuk memiliki pondasi hukum formal Islam selain Pancasila dan UUD 45. Beberapa daerah yang mempraktekkan gerakan ini diantaranya Aceh, Sumatera Barat dan Banten. Kedua adalah Revivalisme Islam Nasional. Dimana ideologi Islam disandingkan dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai jawaban atas persoalan-persoalan kebangsaan. Gerakan yang bersifat nasional ini meyakini bahwa permasalah bangsa dapat diatasi dengan penguatan nilai-nilai, moral dan etika keislaman. Kelompok ini diwakili oleh PKS, FPI dan sebagainya. Kedua kelompok tersebut biasanya masih bersikap moderat dalam upaya menyesuaikan nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai keindonesiaan.
Kelompok Ketiga adalah gerakan Revivalisme Murni yang biasanya bersifat transnasional (internasional) dimana gerakan ini mengidentifikasikan diri kedalam gerakan-gerakan Islam luar negeri seperti Hizbut Tahrir di Libanon, Jama’ah Islamiyah di India dan Ikwanul Muslimin di Mesir. Kelemahan kelompok Islam ini adalah ketidakjelasan orientasi ke depan, apakah maksudnya hanya sekedar pembelajaran wacana ‘Islam Ideal’ atau malah ingin mencoba mengubah tatanan kebangsaan nasional menjadi tatanan kebangsaan yang Islami versi ‘Islam Salafy’? Atau lebih jauh, apakah tujuan kelompok-kelompok ini mencoba mendirikan Daulah Islamiyah berskala dunia dimana Indonesia hanya akan menjadi bagian di dalamnya? Meskipun demikian, langkah yang paling bijak tentu mempelajari lebih dahulu dulu tujuan dan misi dari setiap kelompok Islam jenis ketiga ini.
Orang-orang Islam dari kelompok revivalis di Indonesia biasanya juga disebut dengan Islam Salafy. Cita-cita mereka murni ingin menegakkan Islam sesuai dengan apa yang di praktekkan oleh para pendahulu (kaum salaf) yaitu Nabi dan para Sahabatnya. Gerakan ini juga didasari oleh kekecewaan pada Islam Kultural (dalam hal ini diwakili oleh NU dan Muhammadiyah) karena dianggap telah gagal dalam membela Islam dari cengkraman kaum nasionalis-liberalis. Kaum Revivalis Islam Murni meyakini bahwa permasalahan umat Islam secara otomatis dapat diselesaikan apabila mereka secara harfiah kembali kepada ibadah maupun muamalah yang dipraktekkan oleh Rasul dan Para Sahabat (salafussalihin).
Islam Kultural lebih condong mengamalkan ajaran Islam substantif dibandingkan dengan pemaknaan secara harfiah. Islam Kultural meyakini bahwa Islam Indonesia, baik penyebaran, maupun muatan sosiologis-filosofisnya ‘berbeda,’ dari Islam di tempat lain. Bagi mereka, menerima Pancasila sebagai dasar negara tidak bertentangan dengan esensi dan tujuan dari keberislaman itu sendiri.
Gerakan-gerakan revivalis apalagi yang cenderung Anti-Pancasila dan Anti-Demokrasi dianggap mencederai nilai-nilai Islamis, Nasionalis, Humanis dan Cinta Budaya. Oleh karenanya, Wacana Islam Nusantara dipercaya merupakan upaya penguatan kembali (reproduksi) ‘Islam Kultural’ yang selama ini diusung oleh NU dan Muhamadiyah.
Gerakan Islam Nusantara kemudian sering dituding sebagai Islam Model Baru, atau Islam ‘Versi’ Indonesia. Tudingan tersebut melahirkan kecurigaan bahwa Islam Nusantara adalah produk Liberal-Sekuler yang mencoba mewadahi kehadiran Syi’ah dan Ahmadiyah. Gerakan tersebut juga dituding sebagai ghazwatul fikri (perang wacana), yang dicetuskan oleh orang-orang liberal yang telah teracuni pemikir-pemikir barat.
Gerakan Islam Nusantara adalah sebuah gerakan yang mencoba mengkondisikan Islam hingga sesuai dengan kehidupan kekinian, kenusantaraan dan kemanusiaan. Menjadi Islam Nusantara tidak mesti berprilaku kearab-araban. Menjadi Islam Nusantara tidak mesti menolak Pancasila dan demokrasi. Menjadi Islam Indonesia tidaklah mengabaikan konteks dan sejarah sehingga cenderung kaku dan tidak menerima kultur lokal dengan tudingan dianggap menyimpang dari tuntunan Islam yang murni.
Azyumardi Azra disetiap kesempatan sering menyebut Islam Indonesia sebagai ‘Flowery Islam,’ atau ‘Islam yang Berbunga-bunga.’ Menurutnya, sebagaimana sifat bunga yang gemerlap dan penuh warna, Islam Nusantara adalah Islam yang indah dan dipadu dengan tradisi-tradisi lokal sehingga menjadi unik. Menurut beliau, Islam Indonesia senang ziarah ke kuburan, washilah dan mengunjungi ulama-ulamanya. Orang Islam Indonesia suka  dengan tahlilan, walimah-walimah dan lain-lain. Azra menjelaskan bahwa Islam Indonesia juga cinta pada sejarah dan kebudayaan, sehingga candi-candi dan monumen-monumen dari masa lalu bahkan dari zaman sebelum kedatangan Islam dipelihara dan dijaga. Ini tentu berbeda dengan kecenderungan Islam Murni yang menurutnya ahistoris dan kurang memperhatikan nilai-nilai sejarah.
Jadi, wacana Islam Nusantara adalah sebuah gaung bersambut dari gema lama yang mulai terancam akibat gelombang revivalisme yang cenderung radikal serta mengancam keutuhan dan integrasi. Islam Nusantara adalah sebuah tawaran bagaimana nilai-nilai keislaman dapat disandingkan dengan nilai-nilai kenusantaraan dan nilai-nilai kebangsaan. Umat Islam telah begitu nyaman bersanding dengan umat-umat yang lain. Umat Islam telah begitu nyaman dengan tradisi yang mengakar urat dan menjadi identitas unik Islam ‘ala’ Nusantara. Islam datang dengan damai di tanah ini, berkembang begitu pesat dan maju hingga kita menjadi bangsa dengan jumlah penduduk muslimnya terbanyak di dunia. Semua itu tidak lepas dari upaya-upaya bijaksana dari para pendahulu kita untuk lebih mengedepankan Islam sebagai substansi daripada Islam sebagai agama tekstual yang kaku dan harus disesuaikan dengan budaya Arab.

No comments:

Post a Comment