Saturday, 3 October 2015

KAMPUS DALAM LINGKAR SETAN KONSUMERISME



Ramli Cibro
Terlalu naïf jika bercerita tentang buku apa yang harus menghiasi perpustakaan ketika jutaan buku terbut tiap hari, bebas ‘mencret’ tanpa perlu ada klarifikasi ilmiah untuk pertanyaan buku apa yang pantas dijadikan referensi, makalah, jurnal, atau sekeripsi kecuali bahwa buku itu harus ada putnot dan ada daftar pustakanya.

Terlalu naïf untuk bicara tong sampah ketika kesadaran kita tuk buang sampah masih ditempeli tanda tanya besar, ketika, bungkus nasi, tulang iakn, botol akua dan abu rokok masih dimasukkan ke dalam satu kantong plastic hitam, dibudel-bundel dan dilempar begitu saja di halaman kost-kostan.
            Terlalu naïf jika kita bicara tentang moral dan norma ketika kita sudah tidak pernah lagi tidur dikostan karena kita masing-masing sudah terbiasa menginap di rumah istri simpanan. Ya simpanan karena tidak ketahuan orang tua. Astaghfirulloh, apik-apik teu ngarti.
Terlalu naïf jika kita bicara tentang Wifi gratis, fasilitas nongkrong jika semua itu hanya melarutkan kita pada Naruto Sipunden, Top Elepen dan Super Junior.
Terlalu naïf jika kita berteriak-teriak pada demokrasi yang kita katakana tuli namun kita meneriakinya dengan kebisuan. Kita bisu dari esensi, kita bisu dari tujuan, kita bisu dari ketulusan. Yang kita bawa hanya kuning dan hijau, yang kita bawa ialah mereka yang tidak kita kenal, berharap mereka-mereka itu akan mengangkat kita jadi PeenEs nanti setelah kita lulus dari kuliah. Dengan alasan demi membangun jaringan, demi mendapat perhatian senior-senior di pemerintahan, demi nanti kita cepat dapat pekerjaan, cepat jadi pejabat, kita berkorban, membentangkan bendera, bahkan dengan mata terpejam-pejam karena gagal ngutang makan kepada teman, mendobrak, mendemo dan mencaci maki seperti orang yang mulutnya tidak dibasuh.
Tolong kawan. Pastikan dulu celana dalam yang kau pake bukan milik teman kostan, agar ketika engkau menuduh mereka melanggar pasal 419 KUHP Tentang Korupsi, mereka tidak balik menyerangmu dengan pasal 363 KUHP Tentang Pencurian Celana Dalam.
Kau tahu kawan, di negara ini, mencuri celana dalam jauh lebih beresiko daripada menggondol triliunan uang Negara. Ancamannya bisa berlapis, mulai dari amukan masa, tuduhan pelecehan seksual sampai masuk penjara tanpa disidangkan.
Masalah toilet, apakah toilet mesjid boleh dipakai selain tujuan sholat? Apakah toilet mahasiswa dan dosen harus dipisah atau disatukan hanya akan membuatmu pusing. Jangan naïf, kawan. Please Dech!
Kawan. Kita terlalu sibuk ulin. Cari tempat baksos yang dekat dengan kawasan wisata Situ Patengang, biar setengah dari dana baksos bisa digunakan buat naik perahu ke pulau cinta yang ternyata bisa dilalui dengan berkendaraan sepeda motor.
Itulah kawan. Kita. Calon koruptor!
 Aku tahu kita krisis eksistensi. Tapi jangan sampai kehausan akan eksistensi membuat kita lupa akan warna kulit. Apakah ada relevansi antara Pas Mantep dan Opera Pan Japa dengan konsep kampus Islam, “Wahyu Memandu Ilmu”? Masih mending jika ikut pengajian Yusuf Mansur atau acara keagamaan-keagamaan di TPRI. Lah kalau ikutan Pas Mantas ama Opeje, apa hubungannya?

No comments:

Post a Comment