Terlalu naïf jika
bercerita tentang buku apa yang harus menghiasi perpustakaan ketika jutaan buku
terbut tiap hari, bebas ‘mencret’ tanpa perlu ada klarifikasi ilmiah untuk
pertanyaan buku apa yang pantas dijadikan referensi, makalah, jurnal, atau sekeripsi
kecuali bahwa buku itu harus ada putnot dan ada daftar pustakanya.
Terlalu naïf untuk bicara
tong sampah ketika kesadaran kita tuk buang sampah masih ditempeli tanda tanya
besar, ketika, bungkus nasi, tulang iakn, botol akua dan abu rokok masih
dimasukkan ke dalam satu kantong plastic hitam, dibudel-bundel dan
dilempar begitu saja di halaman kost-kostan.
Terlalu naïf jika kita bicara tentang moral dan norma
ketika kita sudah tidak pernah lagi tidur dikostan karena kita masing-masing
sudah terbiasa menginap di rumah istri simpanan. Ya simpanan karena tidak
ketahuan orang tua. Astaghfirulloh, apik-apik teu ngarti.
Terlalu naïf jika kita
bicara tentang Wifi gratis, fasilitas nongkrong jika semua itu hanya melarutkan
kita pada Naruto Sipunden, Top Elepen dan Super Junior.
Terlalu naïf jika kita
berteriak-teriak pada demokrasi yang kita katakana tuli namun kita meneriakinya
dengan kebisuan. Kita bisu dari esensi, kita bisu dari tujuan, kita bisu dari
ketulusan. Yang kita bawa hanya kuning dan hijau, yang kita bawa ialah mereka
yang tidak kita kenal, berharap mereka-mereka itu akan mengangkat kita jadi PeenEs
nanti setelah kita lulus dari kuliah. Dengan alasan demi membangun
jaringan, demi mendapat perhatian senior-senior di pemerintahan, demi nanti
kita cepat dapat pekerjaan, cepat jadi pejabat, kita berkorban, membentangkan
bendera, bahkan dengan mata terpejam-pejam karena gagal ngutang makan kepada
teman, mendobrak, mendemo dan mencaci maki seperti orang yang mulutnya tidak
dibasuh.
Tolong kawan. Pastikan
dulu celana dalam yang kau pake bukan milik teman kostan, agar ketika engkau
menuduh mereka melanggar pasal 419 KUHP Tentang Korupsi, mereka tidak
balik menyerangmu dengan pasal 363 KUHP Tentang Pencurian Celana Dalam.
Kau tahu kawan, di negara
ini, mencuri celana dalam jauh lebih beresiko daripada menggondol triliunan
uang Negara. Ancamannya bisa berlapis, mulai dari amukan masa, tuduhan
pelecehan seksual sampai masuk penjara tanpa disidangkan.
Masalah toilet, apakah
toilet mesjid boleh dipakai selain tujuan sholat? Apakah toilet mahasiswa dan
dosen harus dipisah atau disatukan hanya akan membuatmu pusing. Jangan naïf, kawan.
Please Dech!
Kawan. Kita terlalu sibuk ulin.
Cari tempat baksos yang dekat dengan kawasan wisata Situ Patengang, biar
setengah dari dana baksos bisa digunakan buat naik perahu ke pulau cinta yang
ternyata bisa dilalui dengan berkendaraan sepeda motor.
Itulah kawan. Kita. Calon
koruptor!
Aku tahu kita krisis eksistensi. Tapi jangan
sampai kehausan akan eksistensi membuat kita lupa akan warna kulit. Apakah ada
relevansi antara Pas Mantep dan Opera Pan Japa dengan konsep kampus Islam, “Wahyu
Memandu Ilmu”? Masih mending jika ikut pengajian Yusuf Mansur atau acara
keagamaan-keagamaan di TPRI. Lah kalau ikutan Pas Mantas ama Opeje, apa
hubungannya?

No comments:
Post a Comment