Fenomena Umrah yang marak akhir-akhir
ini sejatinya patut disukuri sebagai bagian dari meningkatnya rasa kesadaran
beragama ummat Islam khususnya di Aceh. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa
hati manusia tidak dapat lepas dari nuansa-nuansa spiritual, kesyahduan
beragama, kekhusyu’an dan keintiman dengan sang Ilahi. Sudah menjadi fitrah
bahwa di situasi kehidupan yang sulit, manusia membutuhkan medium yang dapat
melepaskan dahaga spiritual.
“Apa gunanya jika kebenaran berdiri di hadapanku, dingin dan telanjang, tidak peduli apakah aku mengenalinya ataupun tidak, dan malah membuatku takut dan bukannya percaya?”_KIERKEGAARD
Wednesday, 26 July 2017
Membaca Hubungan Aceh dan Jakarta dalam Narasi UUPA dan Bab Istisna'
Ramli Cibro
Memahami hubungan Pusat dan Aceh sederhananya seperti memahami Bab Istisna dalam narasi mustasna dan mustasna minhu. Bahwa Aceh adalah mustasna dan Pusat adalah mustasna minhu. Artinya, mustasna harus merupakan bagian dari mustasna minhu, Aceh harus menjadi bagian dari Pusat. Bahwa kepentingan Aceh adalah pengecualian dari kepentingan Pusat. Bahwa pusat harus mendahulukan kebutuhan umum bangsa Indonesia secara keseluruhan, baru kemudian mempersilahkan Aceh untuk mengajukan pengecualian. Bukan sebaliknya bahwa Pusat harus menyesuaikan aturan dengan Aceh. Karena tidak mungkin mustasna minhu menjadi bagian dari mustasna, sama seperti tidak mungkin Pusat menjadi bagian dari Aceh. Acehlah yang harus menjadi bagian dari Pusat, walaupun pada akhirnya kemudian Aceh membuat pengecualian.
Memahami hubungan Pusat dan Aceh sederhananya seperti memahami Bab Istisna dalam narasi mustasna dan mustasna minhu. Bahwa Aceh adalah mustasna dan Pusat adalah mustasna minhu. Artinya, mustasna harus merupakan bagian dari mustasna minhu, Aceh harus menjadi bagian dari Pusat. Bahwa kepentingan Aceh adalah pengecualian dari kepentingan Pusat. Bahwa pusat harus mendahulukan kebutuhan umum bangsa Indonesia secara keseluruhan, baru kemudian mempersilahkan Aceh untuk mengajukan pengecualian. Bukan sebaliknya bahwa Pusat harus menyesuaikan aturan dengan Aceh. Karena tidak mungkin mustasna minhu menjadi bagian dari mustasna, sama seperti tidak mungkin Pusat menjadi bagian dari Aceh. Acehlah yang harus menjadi bagian dari Pusat, walaupun pada akhirnya kemudian Aceh membuat pengecualian.
Melampaui Perang Agama
Dalam memaknai Perang Palestina, kita harus melampaui narasi Agama karena tidak banyak orang di dunia ini yang bersimpati pada isu Agama. Perang Palestina harus dimakna sebagai narasi penindasan, pelanggaran hak-hak kemanusiaan dan merampas kemerdekaan suatu Bangsa. Kita harus bersama-sama meyakinkan dunia, bahwa tidak boleh ada lagi kekerasan atas manusia dimanapun dan kapanpun. Bahwa tidak boleh ada lagi pelanggaran atas hak-hak dan kemerdekaan suatu bangsa, dimanapun dan kapanpun. Bahwa tidak boleh ada lagi penindasan kepada manusia, apapun agamanya, dimanapun dan kapanpun.
![]() |
| Bendera Palestina |
Karena sejatinya bumi ini adalah tempat kita berpijak, bersama-sama. Tentu wajib bagi setiap kita untuk menjaga pijakan itu bersama-sama pula. Kita harus yakin, bahwa kehidupan manusia di dunia ini sudah terjalin, berkelindan begitu erat. Tidak ada lagi Timur dan Barat. Tidak ada lagi Darul Islam dan Darul Harbi. Tidak ada lagi tanah terlarang atau tanah yang dijanjikan. Yang ada hanyalah tanah cinta, tanah kemerdekaan, tanah penghormatan atas hak-hak manusia, siapapun ia, dimanapun ia dan apapun agamanya.
Kita harus yakinkan dunia, bahwa tidak ada kebahagiaan diatas penderitaan orang lain. Tidak ada kebanggaan dari prilaku menindas dan tirani. Tidak ada kehormatan dari prilaku amoral, curang dan korupsi. Dan tidak ada keabadian yang dapat diperoleh dari permusuhan kecuali ketidaknyamanan, rasa takut dan penyesalan.
Jika kita ingin bahagia di dunia yang bercampur aduk ini, saatnya nomor-duakan sekat primordial dan kembali kepada semangat bersama. Cinta, Penghormatan, Kasih Sayang, Penghargaan, Kemerdekaan dan Gotong-Royong.Mari kita tolak segala bentuk penjajahan dan kekerasan. Mari kampanyekan kemerdekaan dan kedamaian...
Tuesday, 11 July 2017
Dari "Buku Usang" ke Buku "Foto Copy;" Wajah Pendidikan di Aceh
Oleh : Ramli Cibro
Memang agak aneh ketika ditengah keterpurukan
ekonomi, dunia pendidikan justru semakin memperlihatkan taring-nya yang tidak
bersahabat. Sebagai tukang foto copy yang memilih beroperasi di kampung
daripada di perkotaan dekat kampus, membuat saya merasakan langsung dampak
keterpurukan ekonomi itu. Disela-sela menunggu hasil kopian, saya sering
bertanya kepada para pelanggan mengenai pekerjaan, penghasilan, suka duka
hingga bagaimana mereka menyekolahkan anaknya. Banyak orang tua yang mengeluh
betapa biaya sekolah semakin menggila dari hari ke hari. Memang kebanyakan
sekolah tidak memungut biaya kecuali mungkin untuk seragam olah raga dan baju
batik. Namun, beberapa kebijakan terasa sangat memberatkan orang tua siswa.
Salah satu dari kebijakan tersebut adalah kewajiban untuk memfoto-copy
buku-buku paket pelajaran.
Sebagai tukang foto copy saya sering
menghitung bahwa rata-rata setiap tahun ada sekitar sepuluh sampai lima belas
buah buku foto copy yang harus di copy khususnya oleh siswa pada jejang
pendidikan SD dan MI. Rata-rata harga satu kopian buku antara 20 sampai 30
ribu. Jika dikalkulasikan 15 buku kali 25 ribu, setiap tahun, anggaran buku
satu siswa dapat mencapai Rp. 300.000 ribu lebih. Itu belum lagi kewajiban
untuk ganti-ganti buku tulis setiap tahun ajaran atau larangan menggunakan buku
tulis lama yang hanya terpakai beberapa lembar untuk dipakai pada tahun ajaran
baru.
Saya kembali bertanya-tanya apa yang sedang
terjadi di sekolah-sekolah kita? Sebagian guru memang mengeluhkan bahwa buku
paket pelajaran yang diberikan oleh pemerintah sangatlah terbatas. Ini memang
ironis di tengah anggaran yang katanya konon melimpah ruah. Namun yang lebih
ironis lagi adalah kreatifitas dan rasa empati yang tidak mampu ditunjukkan
oleh guru-guru kita. Tidak selamanya pembelajaran yang baik berarti mengkopi
seluruh buku dari halaman pengantar sampai halaman catatan. Tidak mesti
pendidikan berarti menjejali anak-anak kurikulum-kurikulum tebal nan
membosankan.
Disanalah terlihat bahwa kreatifitas para
guru perlu dipertanyakan. Apakah tidak ada cara lain mentransformasi pelajaran
tanpa harus terjerat dalam diktum-diktum beku, buku dan silabus? Bukankah
ada begitu banyak cara-cara kreatif dan menyegarkan, seperti belajar di luar
ruangan, belajar langsung dari alam, belajar berinteraksi antar siswa atau
sekali-kali belajar dengan melibatkan orang tua? Atau jangan-jangan guru-guru
kita memang banyak yang sebenarnya tidak berkompetensi untuk mengajar? Atau
malas mempersiapkan bahan ajar? Akhirnya, mereka mengambil jalan pintas lalu
kemudian menjejali anak-anak dengan buku-buku dan bacaan-bacaan?
Saturday, 8 July 2017
MEMBACA SYATAHAT POLITIK JOKOWI
![]() |
| Pikiran Merdeka, Senin, 26 Juni 2017 |
Ramli Cibro
Kamis
1 Juni 2017, di halaman Gedung Pancasila komplek kementerian Luar Negeri Jakarta
Jokowi menyampaikan pidato peringatan
hari lahir ke 72 Pancasila. Pidato yang katanya terinspirasi dari pidato Bung
Karno tersebut cukup kontroversi lantaran kalimat, “Saya Pancasila!” yang
diungkapkan dinilai oleh sebagian kalangan kurang tepat. Kata-kata tersebut
dianggap telah mereduksi makna Pancasila. Seolah Jokowi dengan kata-katanya
telah menepatkan Pancasila pada ruang makna yang sempit. Seolah, jika Jokowi
adalah Pancasila maka yang lain bukan Pancasila.
Secara
logis, kata-kata Jokowi memang keliru dan reduksionis. Ini bukan pilihan kata
yang tepat bagi seorang presiden di Negara demokratis yang menolak hegemoni
individu tertentu. Kata-kata yang menyimbolkan seseorang dengan lambang negara
mungkin tepat jika diucapkan oleh pemimpin yang memiliki kekuasaan mutlaq
semisal raja atau diktator. Namun Jokowi adalah presiden republik Indonesia.
Mendefenisikan diri sebagai Pancasila jelas merupakan kekeliruan yang fatal.
Namun,
membaca Jokowi tidak tepat jika sekedar membaca apa yang ia sampaikan. Perlu
ada pembacaan khusus untuk memahami mengapa Jokowi berani mengucapkan perkataan
tersebut. Perlu dilihat apa yang melatarbelakangi kata-kata Jokowi itu. Dan
perlu juga dikaji prespektif apa yang digunakan oleh Jokowi sehingga ‘nekat’
mengucapkannya.
Saturday, 3 June 2017
Memetakan Narasi Islam Nusantara
![]() |
| Opini Harian Serambi Indonesia 17 Mei 2017 |
Pagi
15 Mei 2017 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh diadakan seminar bertema Mengukuhkan
Titik Nol Islam Nusantara. Seminar yang mendatangkan Mantan Rektor UIN
Jakarta, Azyumardi Azra tersebut seolah mengisi kehausan narasi intelektual rakyat
Aceh yang merasa didhalimi oleh peletakan titik Nol Islam Nusantara di Barus.
Padahal semua orang tahu, sejarah pun tahu bahwa Aceh adalah titik pertama
Islam berkembang di Nusantara. Seminar Nasional di ruangan yang hanya muat 140
peserta tersebut sedikit menghibur hati. Setidaknya ada satu pengukuhan
psikologis bahwa memang benarlah tanoh endatu mereka sebagai batu
loncatan bagi penyebaran Islam di Negeri ini.
Uniknya,
seminar yang hanya diisi oleh pemateri dari intelektual di bidang sejarah
tersebut justru menghasilkan kesimpulan yang berbeda-benda satu sama lain.
Prof. Dr. Azyumardi Azra berpendapat bahwa Islam Nusantara bermula dari Pasai.
Sedangkan Prof. Dr. Farid Wajdi berpendapat bahwa Islam Nusantara muncul di
Peurlak. Sedangkan Husaini Ibrahim, seorang sejarawan Aceh meyakini bahwa Islam
Nusantara lahir di Lamuri. Walaupun berbeda pendapat, ketiga sejarawan tersebut
setidaknya meyakini bahwa bahwa Islam Nusantara bermula di Aceh, bukan di Barus
(walaupun konon Barus dulunya juga bagian dari imperial Aceh)
Titik Nol Islam Nusantara; Mengapa Bukan Aceh?
Ramli Cibro
Belum lagi selesai dilema Wisata Syari'ah yang malah jatuh ke BALI, hari ini kita dikejutkan oleh penepatan Barus yang penduduknya sebagian besar non-muslim sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Kali ini kita bertanya, bukankah sejarah Islam di Nusantara dimulai dari Aceh dengan kerajaan-kerajaan pertama Pasai, Perlak dan Lamuri ? Mengapa justru tugu Islam Nusantara di letakkan di tempat lain?
Untuk menjawab persoalan tersebut tentu kita harus kembali kepada akar masalah apa itu Islam Nusantara? Karena sejatinya perkara “Islam Nusantara” bukanlah sekedar perkara sejarah dimana pertama sekali Islam menginjakkan kakinya di Nusantara. Islam Nusantara adalah perkara Epistimologi-Teologi tentang bagaimana dan dimana konstruksi keislaman dan kebudayaan dimulai secara utuh. Siapa yang dengan gamblang menjelaskan konsep dialog keislaman dan kebudayaan dalam bingkai ketasawufan berbasis wujud? (Mulyadi, 2016:81)
Belum lagi selesai dilema Wisata Syari'ah yang malah jatuh ke BALI, hari ini kita dikejutkan oleh penepatan Barus yang penduduknya sebagian besar non-muslim sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Kali ini kita bertanya, bukankah sejarah Islam di Nusantara dimulai dari Aceh dengan kerajaan-kerajaan pertama Pasai, Perlak dan Lamuri ? Mengapa justru tugu Islam Nusantara di letakkan di tempat lain?
Untuk menjawab persoalan tersebut tentu kita harus kembali kepada akar masalah apa itu Islam Nusantara? Karena sejatinya perkara “Islam Nusantara” bukanlah sekedar perkara sejarah dimana pertama sekali Islam menginjakkan kakinya di Nusantara. Islam Nusantara adalah perkara Epistimologi-Teologi tentang bagaimana dan dimana konstruksi keislaman dan kebudayaan dimulai secara utuh. Siapa yang dengan gamblang menjelaskan konsep dialog keislaman dan kebudayaan dalam bingkai ketasawufan berbasis wujud? (Mulyadi, 2016:81)
Sunday, 14 May 2017
BEBERAPA BUKU YANG MENULIS TENTANG HAMZAH FANSURI (BAGIAN 1)
Tulisan ini akan mencoba memperkenalkan beberapa buku yang menulis mengenai Hamzah Fansuri. Buku-buku tersebut akan diperkenalkan satu persatu kepada khalayak mengingat masih akan banyak orang yang ingin mengkaji Hamzah Fansuri. Dan dengan memperkenalkan beberapa buku mengenai Hamzah Fansuri akan membantu para peneliti pemula untuk memetakan arah kajiannnya dan menemukan hal-hal yang tidak ditemukan oleh peneliti Hamzah Fansuri sebelum-sebelumnya.
Apapun itu semoga tulisan ini bermanfaat hendaknya Amin,...
![]() |
| The Mysticism of Hamzah Fansuri |
Syed Naquid Al-Attas (1970) dengan karya-nya The Mysticism of Hamzah Fansuri. Al-Attas dalam buku tersebut selain menjelaskan beberapa pokok ontologi seperti al-a’yân al-thâbîtah, rŭh, nafs, Sifât, dan Asmâ,’ juga memuat beberapa persoalan epistimologi yaitu fanâ, ma’rifah dan ikhtiâr. Selain itu Al Attas juga berusaha untuk menjelaskan konsep irâdah dan amr Tuhan dengan menggunakan kata hendak sebagai key-word atau kata kunci.
![]() |
| Tasawuf yang Tertindas |
Abdul Hadi W.M dengan karya-nya Tasawuf Yang Tertindas (2001). Karya yang merupakan disertasi di Universitas Sains Malaysia tahun 2006 tersebut memuat konsep-konsep metafisika, psikologi keruhanian, epistimologi sufi dan estetika. Metafisika mengkaji tentang a’yân, alam lahũt dan alam nasũt. Psikologi ruhani membahas persoalan kemabukan spiritual (‘ishq) dan cinta (maḥabbah). Epistimologi sufi membahas mengenai pendakian spiritual dalam empat tingkatan yaitu sharî’ah, ṭarîqah, ḥaqîqah dan ma’rifah. Dan estetika mempersoalkan rima (pola atau bentuk sya’ir) dan citra simbol (seperti burung, kapal dan laut).
![]() |
| Tasawuf Falsafi Syeikh Hamzah Fansuri |
Afif Anshori dengan Tasawuf Falsafi Syeikh Hamzah Fiansuri (2004). Membahas tentang persoalan Ontologi-Metafisika ajaran tasawuf Hamzah Fansuri serta Reaksi Nǔr Al dĭn Al Rânĭrĭ atas ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Afif menuliskan setidaknya 5 sanggahan Al Rânĭrĭ yaitu Konsepsi Wujǔdiyah, Eksistensi Nyawa, Kemakhlukan Al-Qur’an dan kebersatuan wujǔd.
![]() | |
| Wujudiyah Hamzah Fansuri Dalam Perdebatan Para Sarjana |
Syarifuddin dengan karya-nya Wujúdiyah Hamzah Fansuri dalam Perdebatan
Para Sarjana (2011). Karya tersebut membahas berbagai persoalan
ontologi seperti asal usul terminologi wujúdiyah, dan kosmologi tajalllî
dzât. Terakhir, sesuai dengan judulnya yang mengacu pada perdebatan
para sarjana, Syarifuddin menuliskan dua kubu sarjana yang masing-masing
mendukung dan menolak ajaran wujúdiyah, Hamzah Fansuri hingga kemudian
disimpulkan bahwa mereka yang menolak ajaran Hamzah Fansuri memiliki
argumentasi yang lemah karena melihat persoalan wujúdiyah dari dimensi
tashbîh, imanensi atau pengumpamaan semata. Padahal menurut Syarifuddin,
ajaran wujúdiyah Hamzah Fansuri juga bermuatan tanzîh atau transenden.
![]() |
| Tasawuf dan Sastra Melayu, Kajian dan Teks-Teks dan Yang Indah, Yang Berfaedah dan Kamal; Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7 -19 |
V.I
Braginsky dengan Tasawuf dan Sastra Melayu, Kajian dan Teks-Teks (1993) dan Yang Indah, Yang Berfaedah dan Kamal; Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7
-19 (1998)
Kedua karya tersebut membahas konsep-konsep ontologi dan kosmologi Hamzah
Fansuri meliputi hakikat wujud, nur Muhammad, makro-kosmos dan mikro-kosmos.
![]() | |
| Buku Aksiologi Ma'rifah Hamzah Fansuri |
Ramli Cibro, Aksiologi Ma'rifah Hamzah Fansuri adalah buku yang mencoba mengevaluasi struktur ontologi, epistimologi dan aksiologi dari ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Melalui paradigma filsafat pragmatis Wiliam James, dan dengan pendekatan semantik, penulis mencoba menawarkan prespektif baru dalam memahami Hamzah Fansuri dan ajaran tasawufnya. Oh ya... bagi yang berminat, dapat menghubungi nomor si Cibro, 085270522312 no SARA ha ha
![]() |
| Buku Wahdah Al-Wujud dan pengarangnya, Miswari Usman Banta Ahmad The Drunken Master Leumak Mabok (Gambar2 ini mungkin memiliki hak cipta.. mohn izinnya) |
Miswari, Wahdah Al-Wujud; Konsep Kesatuan Wujud antara Hamba dan Tuhan menurut Hamzah Fansuri, terbitkan Basa-Basi, merupakan buku yang sangat kuat mendiskusikan aspek ontologi Hamzah Fansuri. Ibarat obat, buku ini memiliki dosis yang sangat tinggi, atau dalam bahasa Aceh "Leumak Mabok." Sampai tulisan ini ditorehkan, penulis baru membaca versi tesis dari buku ini. Ia membahas secara tuntas mengenai konsep wujud Hamzah Fansuri dalam kitab ashrar arifin. Penulis sendiri sudah menargetkan bahwa tahun 2019 adalah tahun dimana penulis akan mempelajari pemikiran "drunken master dalam ilmu filsafat islam" yang satu ini. Oh ya... ada yang berminat... langsung saja ke orangnya... dengan kode sakti 085260649068
SEBENARNYA: SEBENARNYA ADA BEBERAPA BUKU LAGI YANG MEMBAHAS MENGENAI HAMZAH FANSURI SEPERTI BUKU-BUKU PROF.SIMUH DAN LAIN-LAIN. TAPI BERHUBUNG PENULIS BELUM MEMILIKI ATAU MENGAKSESNYA JADI>>> YA>>> APA YA???
BARUS KOTA WAHDATUL WUJUD
Ramli Cibro
Sejarah Islam Nusantara adalah sejarah yang berbicara tentang
proses asimilasi Islam ke wilayah Nusantara. Peneliti menyebutkan bahwa
penyebaran Islam di Nusantara dilakukan oleh para sufi pengembara yang
menyebarkan faham-faham ketasawufan. Hasilnya Islam yang berkembang di
Nusantara adalah Islam berdimensi sufistik. (Azra, 2013) Yaitu ajaran Islam
yang lebih mengedepankan pembinaan ruhani dan batiniah ketimbang pembinaan
fisik dan bangunan. Oleh karena itu, sejarah peradaban Islam di Nusantara di
masa lampu tidak terlalu signifikan meninggalkan bangunan-bangunan monumental
dan artefak-artefak akan tetapi lebih kepada transformasi kebudayaan dalam
bentuk pemikiran-pemikiran keagamaan, tradisi-tradisi dan naskah-naskah kitab.
Wednesday, 10 May 2017
Kisah Manshur Al-Fanshuri
Suatu ketika di Pulau Ruja, jauh sebelum masa Iskandar Muda,
terdapat seorang tokoh agama, Manshur Al-Fanshuri namanya. Bersama Syamtra et,
bersekutu ia mengajarkan ilmu Salek Buta.
Lalu datanglah dua Ulama dari tanah Arab yang bernama Syeh
Abdul Kade dan Syeh Abdurrauf menantang keduanya untuk mengadu bakar kitab.
Siapapun yang kitabnya terbakar api harus tunduk dan menyerah kepada mereka yang
kitabnya tidak terbakar.
Oleh Manshur Al-Fansuri dan Syamtra et di lemparlah
kitab-kitab mereka ke dalam api dan hangus terbakar kitab-kitab itu,
menunjukkan jalan yang dilalui penganutnya adalah sesat. Giliran Syeh Abdul
Kade dan Syeh Abdurrauf melemparkan kitab mereka. Kedua tidak melemparkan kitab
apa-apa, hanya melemparkan kitab Al-Qur’an ke dalam api dan tidak terbakar.
Karena merasa kalah, maka larilah Manshur Al-Fansuri dan
Syamtra et ke luar negeri. Konon, Manshur Al-Fansuri lari ke Seunagan dan
Syamtra et lari ke Negeri Malaya.
Adapun Syeh Abdul Kade dan Syeh Abdurrauf kemudian melanjutkan
perjalanan mereka ke Pasee Perlak lalu ke Padang, kemudian ke Malaka dan
terakhir sampailah mereka ke Pulau Jawa. Sepanjang perjalanan
bertambah-tambahlah anggota mereka hingga mencapai Sembilan orang. Lalu
Sembilan orang ini sampailah di Negeri Jawa menjadi Sembilan wali atau dalam
bahasa Jawa, Wali Songo.
Tutur seorang kakek tua yang mengaku sebagai murid Syeh Awe
Geutah…
Friday, 5 May 2017
DEMI BANGSA MADANI
Tulisan Lama
DEMI BANGSA MADANI
Ramli Cibro
Peristiwa 4 November 2016, 2 Desember 2016 dan 31 Maret 2017 telah
memicu sedemikian rupa kekerasan berbasis agama di Indonesia. Tuntutan-tuntutan
yang diajukan juga lebih mengarah kepada pendobrakan konstitusi. Misalnya, tuntutan
untuk mempenjarakan Ahok yang secara konstitusi harus melalui prosedur hukum,
pengajuan kasus, pemeriksaan, memanggil ahli dan pakar, lalu kemudian
dihadapkan pada proses peradilan. Maka tuntutan yang pantas untuk seorang Ahok
adalah mengadili Ahok atau untuk memeriksa Ahok. Tuntutan lainnya yang tidak
konstitusional seperti gantung Ahok atau turunkan Ahok dari gubernur.
Persoalannya kemudian semakin membesar ketika beberapa oknum mulai mengeluarkan
ancaman dan sayembara ‘bunuh’ terhadap Ahok. Tentu hal ini menjadi tidak pantas
ditengah upaya kita bersama untuk menegakkan keadilan, kesetaraan dan
kemanusiaan.
Monday, 10 April 2017
BUKU KERAMAT
Tuesday, 28 March 2017
ISLAM NUSANTARA VERSI KBA (Bagian Dua)
![]() |
| Buku Islam Nusantara KBA 2017 |
Oleh Ramli Cibro Kamaruzzaman Bustamam Ahmad menulis sebuah buku yang secara komprehensif memuat kerangka meta-teori dari bagaimana seharusnya konsep Islam Nusantara? Buku yang diterbitkan awal tahun 2017 tersebut memiliki judul yang sangat panjang yaitu: Kontribusi Charles Taylor, Syed Muhammad Naquib Al Attas dan Henry Corbin dalam Studi Metafisika dan Metateori Terhadap Islam Nusantara di Indonesia.
Kamaruzzaman memulai kajiannya dengan mengkritik konsep
Islam Nusantara hari ini. Ia menuding bahwa konsep Islam Nusantara telah
dibajak oleh kelompok NU.
Kamaruzzaman menuliskan kritikannya:
“Apa yang menarik dari isu dan isi Islam
Nusantara adalah penggiringan pada satu pola pemahaman yang dianut oleh
kelompok Nahdatul Ulama (NU). Adapun piringan sejarah yang dibawa adalah
Sejarah Wali Songo kemudian kepada K.H Hasyim Asy’ari berikut dengan
tradisi-tradisi pesantren lainnya yang muncul di kalangan NU. Proses pembelokan
sejarah Islam pada pemahaman suatu konsep, lantas digiring pada penguatan
identitas dalam konteks Negara Bangsa inilah yang perlu dicermati secara
mendalam. Sebab varian kehidupan beragama di Indonesia atau di Asia Tenggara,
pada umumnya tidaklah seperti yang dilakukan oleh NU. Selama ini usaha untuk
menggiring tradisi pada proses konseptualisasi identitas, memang kerap
dilakukan oleh NU. Dulu ketika ada konsep Islam Post-Tradisional, sarjana dari
NU juga paling gencar maju ke depan, untuk memperkenalkannya. Hal yang sama
dilakukan adalah merujuk pada karya-karya Abdurrahman Wahid. Saat ini ketika
Islam Nusantara menjadi salah satu mainstream di dalam menjelaskan
keislaman di Indonesia, para pengusungnya, juga merujuk pada karya Abdurrahman
Wahid, yaitu konsep pribumisasi Islam. Ketika muncul mengenai perdebatan Islam
Liberal di Indonesia, pada sarjana NU juga melakukan hal yang sama, yaitu kerap
mengusung Abdurrahman Wahid sebagai salah satu eksponennya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

















