Wednesday, 7 February 2018

Buku Aksiologi Ma'rifah Hamzah Fansuri

Launching dan Bedah Buku Aksiologi Ma'rifah Hamzah Fansuri
di Aula Fakultas Ushuluddin UIN Ar Raniry Banda Aceh
Selasa 19 Desember 2017
Resume Buku
Judul Buku : AKSIOLOGI MA'RIFAH HAMZAH FANSURI
Penulis : Ramli Cibro
Cetakan Pertama : Juni 2017
ISBN 978-602-60562-03-8
xxi + 182 hlm 14,5x21cm 
Editor : Muhammad Alkaf
Penerbit :
PADEBOOKS Banda Aceh
(disadur dari bagian kesimpulan buku) 
Kajian ini  berangkat dari keinginan penulis untuk mencari nalar epistimologi baru dalam melihat Hamzah Fansuri untuk menemukan konsep-konsep yang mungkin akan diaktualisasikan sebagai konstruk Hamzah Fansuri (atau dalam Istilah beberapa penulis sebagai Konstruk Fansurian). Konstruk ini diharapkan akan menjadi alternatif paradigma khususnya dibidang kebudayaan dan keislaman yang akhir-akhir ini lebih didominasi oleh paradigma keagamaan yang radikal dan fundamental.

Friday, 29 December 2017

Cerpen; Bukan Lagi Rumahku

Cerpen (Apresiasi) Serambi, 26 November 2017
Oleh Ramli Cibro
Jam 2 malam acara usai. Para tamu kemudian pulang ke rumah masing-masing. Aku masih menunggu. Karena seingatku dulu tempat ini adalah rumahku. Dimana aku selalu merasa nyaman berada di dalamnya. Di tempat aku menghabiskan umurku yang tidak sedikit. Di tempat aku mengukir suka dan duka. Di tempat aku pertama kali mengenal apa itu jatuh cinta.
Jam 2 malam acara sudah usai. Aku masih duduk di kursi tamu, menunggu, walau tidak tahu apa yang harus kutunggu. Aku hanya merasa harus menunggu.Sampai kemudian beberapa orang santri melipat kursi-kursi tamu. Mereka semakin mendekat ke arahku. Sebagian ada yang berbisik seperti enggan. Aku tahu, mereka menungguku untuk bangkit berdiri, supaya kursi yang kududuki segera dilipat untuk dirapikan. Dan Akupun berdiri lalu pergi.

MAULID DALAM PREPEKTIF FILSAFAT KENABIAN

Ramli Cibro
Sesuai dengan judulnya, tulisan ini bukan hendak membedah tradisi Maulid dari prespektif dalil fikih. Namun, tulisan ini ingin melihat maulid dari sudut pandang yang tidak biasa, yaitu sudut pandang filsafat, khususnya Filsafat Kenabian. Kajian ini ingin memperkenalkan modifikasi maulid dalam filsafat kenabian dalam narasinya sebagai “Kebenaran” dan dalam prakteknya sebagai “Kehadiran.”
Pada mulanya filsafat kenabian hanya mengacu pada urgensi Nabi sebagai utusan pilihan dan posisi intelektual Nabi dalam kaitannya dengan ‘aql fa al (active intellect). Namun disini, kajian akan diarahkan kepada bagaimana melihat urgensi “Kehadiran Nabi” dalam kehidupan aktual seorang Muslim. Atau lebih jauh lagi, bagaimana mengupas pandangan Filsafat Kenabian atas tradisi Maulid sebagai upaya untuk menghadirkan spirit dan ruh Baginda Rasul SAW dalam prespektif imanensi kenabian.

Saturday, 4 November 2017

DARI GANJA KE SABU; PERUBAHAN FENOMENA SOSIAL MASYARAKAT ACEH


Opini Pikiran Merdeka, 30 Oktober 2017
 *Ramli Cibro

Akhir-akhir ini, fenomena sabu menguat dan menjadi trend tersendiri di kalangan masyarakat Aceh. Baru-baru ini, publik Aceh bahkan dikejutkan oleh penangkapan salah seorang anggota DPRA yang kedapatan menggunakan sabu. Rupa-rupanya, kepopuleran sabu telah mengalahkan ganja yang sebelumnya menjadi icon negeri. Dan uniknya, peredaran sabu yang gencar berbarengan dengan masifnya upaya pemusnahan terhadap ladang-ladang ganja berikut penangkapan terhadap para kurir bako aceh tersebut. Baru-baru ini, (18/8/2017) Polda Aceh berhasil meringkus para kurir dan mengamankan sekitar 40 kilogram ganja di Aceh Utara. Sebelumnya, puluhan hektar ladang ganja di Montasik, Indapuri dan Seulimuem juga dimusnahkan. 


Tuesday, 24 October 2017

Profesi Yang Rasis

Oleh Ramli Cibro 
Panorama keindahan salah satu pulau dimana banyak penduduknya berprofesi sebagai penyelam dengan alat bantu selam sederhana. Saat ini, oleh pemda setempat mereka tidak diperbolehkan lagi untuk menyelam. "Bagaimana nasib mereka nanti? Mana ada yang peduli..."
Seno Joko Suyono dalam bukunya Tubuh Yang Rasis (2008) menuliskan tentang asal mula kemunculan ras unggul di Eropa. Dalam buku tersebut ia menjelaskan telah terjadi pemusnahan terhadap mereka yang dianggap lemah dan rawan berpenyakit. Dengan politik kesehatan, para dokter mengidentifikasi mereka yang secara ras berbeda dengan ras utama, untuk kemudian dikarantina sebelum dimusnahkan. Padahal, sejatinya tubuh adalah kodrat ilahi dimana manusia tidak memiliki kekuatan untuk mengintervensinya. Namun hal demikian terjadi pada masa kegelapan di Eropa.

Monday, 9 October 2017

SYARI'AT YANG BERMAKRIFAT


Serambi Opini, 06 Okt 2017
Oleh : Ramli Cibro
Secara umum, implementasi syari‘at Islam di Aceh telah memperlihatkan kemajuan yang cukup signifikan. Hanya saja, ekses syari‘at lebih mengacu pada persoalan-persoalan kuantitatif dan agak menyampingkan dimensi kualitatif. Sejauh ini implementasi syari’at baru sebatas memproduksi hukum, perangkat-perangkat hukum dan aturan-aturan baru. Imbasnya pada kesadaran masyarakat masih terlihat rendah. Angka kriminalitas dan kemaksiatan tergolong tinggi. Kemiskinan justru meningkat dan anak-anak yang tidak bersekolah juga bukan sedikit.
Syari’at Islam walaupun secara umum memiliki makna yang bermuatan fikih, tapi tidak sepatutnya dijadikan patokan bahwa implementasi syari’at Islam di Aceh haruslah berdimensi fikihistik.
Seyogyanya, kata syari‘at hanyalah jalan untuk memuluskan pembangunan nilai-nilai keislaman secara utuh. Artinya, makna syari’at, mau tidak mau mesti digiring pada persoalan-persoalan yang lebih luas, mencakup dimensi ruhani, adat istiadat, moralitas, ketauhidan hingga pengembangan intelektualitas keagamaan. Sehingga syari’at menjadi jalan menyeluruh dalam menyempurnakan hukum dan hikmah dalam agama.

Tuesday, 26 September 2017

KARENA KITA ADALAH MANUSIA

Ramli Cibro
Entah mengapa saya harus menulis tulisan ini. Perihal tentang begitu banyaknya manusia yang mati sia-sia di lautan karena harus melarikan diri dari Junta. Atau manusia yang mati di selokan karena menenggak oplosan atau menenggak pil yang membuatnya menjadi gila. Atau mati dijalanan karena kebut-kebutan diusia mereka yang masih muda. Dimana situasi dunia masih membutuhkan lebih banyak manusia, untuk menyemai kesadaran untuk bersama-sama membangun peradaban yang lebih mulia. 

Saturday, 19 August 2017

Teruskan Kecerobohanmu Putri Kecil



Hai Putri Kecil. Apa Kabarmu?
Aku kenal orang sepertimu yang terlalu sibuk dengan hal-hal sepele dan melupakan hal-hal serius. Aku kenal orang sepertimu yang mengikut arus sekaligus mencoba untuk melawannya. Aku kenal orang sepertimu yang begitu idealis namun tanpa sengaja sering menabrak idealismenya sendiri.
Hampir semua salah di matamu tapi bukan karena kau suka menyalah-nyalahkan. Hanya saja kau terlalu sensitif dan terlalu peka untuk setiap apa yang kau lihat telah penyimpang. Kau terlalu baik, terlalu berempati, hingga terkadang kau terjebak dalam empatimu sendiri. Sering terjadi kau tidak mampu melepaskan diri atau mengakhiri hubungan yang terbentuk tanpa sengaja akibat kecerobohan (persisnya keluguan)mu. 

Wednesday, 16 August 2017

Gereja Tua di Pinggir Jalan

Jalanan masih sama seperti dahulu. Tepatnya tahun-tahun pertama kampung itu dibuka. Oleh Pendeta berdarah Belanda ditengah-tengah perkebunan teh milik VOC. Gereja itu bersebelahan dengan kandang kambing milik si Pendeta yang sudah lama tidak dipakai. Kandang kambing itu kini telah diisi dengan ternak babi, oleh anaknya yang kawin dengan janda pribumi. 
Pendeta itu bernama Albertus, seorang Spanyol yang mengupah diri menjadi pendeta pemerintah Hindia Belanda. Ya. Diantara negara Eropa, Belanda termasuk negara dengan jumlah pendeta paling langka. 
Selain karena banyak pendeta yang ditugaskan untuk misi gospel, juga karena anak-anak muda belanda yang tidak lagi tertarik belajar Agama. Mereka lebih meminati filsafat, sains, ekonomi, alkohol dan nona-nona. Mereka lebih menyukai musik jaz daripada lantunan musik-musik rohani.
Pemuda Belanda lebih menyukai gagasan humanisme yang rasional daripada paradigma-paradigma agama yang menjajah walau berkedok pencerahan dan berkedok menebar kasih Tuhan. 

Wednesday, 26 July 2017

Dari Ziarah ke Umrah; Pergeseran Spiritualitas Masyarakat Aceh



Pikiran Merdeka, Senin 24 Juli 2017
 Oleh Ramli Cibro
Fenomena Umrah yang marak akhir-akhir ini sejatinya patut disukuri sebagai bagian dari meningkatnya rasa kesadaran beragama ummat Islam khususnya di Aceh. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa hati manusia tidak dapat lepas dari nuansa-nuansa spiritual, kesyahduan beragama, kekhusyu’an dan keintiman dengan sang Ilahi. Sudah menjadi fitrah bahwa di situasi kehidupan yang sulit, manusia membutuhkan medium yang dapat melepaskan dahaga spiritual. 

Membaca Hubungan Aceh dan Jakarta dalam Narasi UUPA dan Bab Istisna'

Ramli Cibro

Memahami hubungan Pusat dan Aceh sederhananya seperti memahami Bab Istisna dalam narasi mustasna dan mustasna minhu. Bahwa Aceh adalah mustasna dan Pusat adalah mustasna minhu. Artinya, mustasna harus merupakan bagian dari mustasna minhu, Aceh harus menjadi bagian dari Pusat. Bahwa kepentingan Aceh adalah pengecualian dari kepentingan Pusat. Bahwa pusat harus mendahulukan kebutuhan umum bangsa Indonesia secara keseluruhan, baru kemudian mempersilahkan Aceh untuk mengajukan pengecualian. Bukan sebaliknya bahwa Pusat harus menyesuaikan aturan dengan Aceh. Karena tidak mungkin mustasna minhu menjadi bagian dari mustasna, sama seperti tidak mungkin Pusat menjadi bagian dari Aceh. Acehlah yang harus menjadi bagian dari Pusat, walaupun pada akhirnya kemudian Aceh membuat pengecualian.

Melampaui Perang Agama



Ramli Cibro

Dalam memaknai Perang Palestina, kita harus melampaui narasi Agama karena tidak banyak orang di dunia ini yang bersimpati pada isu Agama. Perang Palestina harus dimakna sebagai narasi penindasan, pelanggaran hak-hak kemanusiaan dan merampas kemerdekaan suatu Bangsa. Kita harus bersama-sama meyakinkan dunia, bahwa tidak boleh ada lagi kekerasan atas manusia dimanapun dan kapanpun. Bahwa tidak boleh ada lagi pelanggaran atas hak-hak dan kemerdekaan suatu bangsa, dimanapun dan kapanpun. Bahwa tidak boleh ada lagi penindasan kepada manusia, apapun agamanya, dimanapun dan kapanpun.
Bendera Palestina
Karena sejatinya bumi ini adalah tempat kita berpijak, bersama-sama. Tentu wajib bagi setiap kita untuk menjaga pijakan itu bersama-sama pula. Kita harus yakin, bahwa kehidupan manusia di dunia ini sudah terjalin, berkelindan begitu erat. Tidak ada lagi Timur dan Barat. Tidak ada lagi Darul Islam dan Darul Harbi. Tidak ada lagi tanah terlarang atau tanah yang dijanjikan. Yang ada hanyalah tanah cinta, tanah kemerdekaan, tanah penghormatan atas hak-hak manusia, siapapun ia, dimanapun ia dan apapun agamanya.
Kita harus yakinkan dunia, bahwa tidak ada kebahagiaan diatas penderitaan orang lain. Tidak ada kebanggaan dari prilaku menindas dan tirani. Tidak ada kehormatan dari prilaku amoral, curang dan korupsi. Dan tidak ada keabadian yang dapat diperoleh dari permusuhan kecuali ketidaknyamanan, rasa takut dan penyesalan.
Jika kita ingin bahagia di dunia yang bercampur aduk ini, saatnya nomor-duakan sekat primordial dan kembali kepada semangat bersama. Cinta, Penghormatan, Kasih Sayang, Penghargaan, Kemerdekaan dan Gotong-Royong.
Mari kita tolak segala bentuk penjajahan dan kekerasan. Mari kampanyekan kemerdekaan dan kedamaian...

Tuesday, 11 July 2017

Dari "Buku Usang" ke Buku "Foto Copy;" Wajah Pendidikan di Aceh

Oleh : Ramli Cibro




Memang agak aneh ketika ditengah keterpurukan ekonomi, dunia pendidikan justru semakin memperlihatkan taring-nya yang tidak bersahabat. Sebagai tukang foto copy yang memilih beroperasi di kampung daripada di perkotaan dekat kampus, membuat saya merasakan langsung dampak keterpurukan ekonomi itu. Disela-sela menunggu hasil kopian, saya sering bertanya kepada para pelanggan mengenai pekerjaan, penghasilan, suka duka hingga bagaimana mereka menyekolahkan anaknya. Banyak orang tua yang mengeluh betapa biaya sekolah semakin menggila dari hari ke hari. Memang kebanyakan sekolah tidak memungut biaya kecuali mungkin untuk seragam olah raga dan baju batik. Namun, beberapa kebijakan terasa sangat memberatkan orang tua siswa. Salah satu dari kebijakan tersebut adalah kewajiban untuk memfoto-copy buku-buku paket pelajaran.
Sebagai tukang foto copy saya sering menghitung bahwa rata-rata setiap tahun ada sekitar sepuluh sampai lima belas buah buku foto copy yang harus di copy khususnya oleh siswa pada jejang pendidikan SD dan MI. Rata-rata harga satu kopian buku antara 20 sampai 30 ribu. Jika dikalkulasikan 15 buku kali 25 ribu, setiap tahun, anggaran buku satu siswa dapat mencapai Rp. 300.000 ribu lebih. Itu belum lagi kewajiban untuk ganti-ganti buku tulis setiap tahun ajaran atau larangan menggunakan buku tulis lama yang hanya terpakai beberapa lembar untuk dipakai pada tahun ajaran baru.
Saya kembali bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di sekolah-sekolah kita? Sebagian guru memang mengeluhkan bahwa buku paket pelajaran yang diberikan oleh pemerintah sangatlah terbatas. Ini memang ironis di tengah anggaran yang katanya konon melimpah ruah. Namun yang lebih ironis lagi adalah kreatifitas dan rasa empati yang tidak mampu ditunjukkan oleh guru-guru kita. Tidak selamanya pembelajaran yang baik berarti mengkopi seluruh buku dari halaman pengantar sampai halaman catatan. Tidak mesti pendidikan berarti menjejali anak-anak kurikulum-kurikulum tebal nan membosankan.
Disanalah terlihat bahwa kreatifitas para guru perlu dipertanyakan. Apakah tidak ada cara lain mentransformasi pelajaran tanpa harus terjerat dalam diktum-diktum beku, buku dan silabus? Bukankah ada begitu banyak cara-cara kreatif dan menyegarkan, seperti belajar di luar ruangan, belajar langsung dari alam, belajar berinteraksi antar siswa atau sekali-kali belajar dengan melibatkan orang tua? Atau jangan-jangan guru-guru kita memang banyak yang sebenarnya tidak berkompetensi untuk mengajar? Atau malas mempersiapkan bahan ajar? Akhirnya, mereka mengambil jalan pintas lalu kemudian menjejali anak-anak dengan buku-buku dan bacaan-bacaan?